Tabung Anak-Anak

Tabung Anak-Anak

Saturday, 19 December 2015

KESAN PERBUATAN DOSA

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku,bahawa sesungguhnya dosa-dosa kita akan mewarisi kelalaian di dalam kehidupan kita, dari kelalaian pula akan mewarisi kedegilan, dari kedegilan akan membawa kepada tindakan yang menjauhkan diri daripada Allah s.w.t dan akhirnya tindakan menjauhkan diri dari Allah s.w.t akan mewarisi pula neraka Allah s.w.t.
Mereka yang berfikir dalam-dalam mengenai persoalan ini,hanyalah mereka yang hidup hatinya,sementara yang mati hatinya,akan terus mati jiwa mereka kerana cintakan dunia.( al-Haris al-Muhaasibi)
  • Manusia akan memasuki ke dalam neraka Allah s.w.t melalui tiga pintu:
Pintu pertama: SHUBHAT akan mewarisi perasaan ragu terhadap agama Allah s.w.t.
Pintu kedua:  SHAHWAT akan mewarisi mengutamakan hawa-nafsu daripada mentaati dan keredhaan Allah s.w.t.
Pintu ketiga: MARAH yang akan mewarisi permusuhan dengan makhluk-makhluk Allah s.w.t.
  • Usul atau punca kepada semua kesalahan manusia ada tiga:
Usul pertama: AL-KIBRU iaitu bangga diri saperti kesombongan iblis yang enggan sujud kepada Adam .
Usul kedua: AL-HIRS iaitu keinginan yang teramat sangat saperti perbuatan yang mengeluarkan nabi Adam a.salam dari syurga.
Usul ketiga: AL-HASAD iaitu dengki saperti yang berlaku kepada anak nabi Adam a.salam.
  • Sesiapa yang bersih dari ketiga-tiga usul ini maka selamatlah ia dari keburukan dan kejahatan.
Kesombongan dan kebongkakan boleh menyebabkan sesorang itu menjadi kafir ( moga Allah s.w.t menghindarinya daripada kita semua) .
 Keinginan yang teramat sangat boleh menyebabkan seseorang itu melakukan perkara-perkara maksiat.
Hasad dengki pula akan menyebabkan lahirnya tindakan yang zalim. (Ibnu Qaiyiim)
Perbuatan maksiat akan memberikan kesan yang buruk,tercela dan kemudharatan kepada hati dan tubuh badan manusia di dunia dan di akhirat. Di antaranya ialah terhalang dari memperolehi ilmu dan rezeki,menghasil hubungan yang buruk di antara pembuat maksiat dengan Allah s.w.t serta hubungannya dengan makhluk-makhluk Allah s.w.t yang lain,menghadapi kesukaran di dalam urusannya,menggelapkan hati,wajah dan kuburnya,melemahkan hati dan badan,hilang keberkatan umurnya,melemahkan kemahuan hati untuk mendampingi Allah s.w.t dan hilangnya perasaan buruk dan benci di hati terhadap perkara-perkara dosa.
Perkara dosa juga menyebabkan seorang bermain-main terhadap Allah s.w.t,memberikan kesan kejahatannya kepada manusia dan binatang,mewarisi kehinaan,merosakkan akal,dicetak hatinya,termasuk di dalam mereka yang dilaknat oleh Rasulullah s.a.w ,diharamkan daripada termasuk di dalam doa-doa nabi ,doa-doa para malaikat untuk keampunannya. 
Perbuatan maksiat juga menjadi penyebab kepada berbagai seksaan di alam barzah,berlakunya berbagai kerosakkan di mukabumi,hilangnya perasaan malu,cemburu dan mengagungkan Allah s.w.t..ia juga penyebab kepada lupanya Allah s.w.t terhadap hambaNya,mengeluarkan hambaNya dari daerah al-ihsan,tertegah pahala orang-orang yang baik,menghilangkan nikmat,menghalalkan hukuman,menjadikan sesorang itu di dalam ketakutan dan kebimbangan,menyebabkan hatinya sakit dan mati padahal sebelumnya hidup dan menutup pandangannya.
Pembuat maksiat akan sentiasa berada di dalam tawanan syaitan, tawanan nafsu ammaratul yang menyeru kepada perkara jahat dan penjara syahwat.
Kesimpulannya; kesemua kejahatan dan keburukan dunia serta akhirat keatas hati dan badan secara umumnya atau khususnya adalah berpunca daripada perbuatan dosa dan maksiat!!
(al-Haaris Al-Muhasibi)

40 dampak dan akibat berbuat zina

1) Dalam zina terkumpul bermacam-macam dosa, kemaksiatan dan keburukan
2) Berkurangnya agama / hilangnya kesempurnaan iman
3) Dicabutnya Nur / cahaya iman
4) Hilangnya sikap wara’ (menjaga diri dari dosa)
5) Hilangnya rasa cemburu.
6) Hilangnya rasa percaya diri, sehingga sering was-was, karena do’anya orang pezina tidak diterima Allah
7) Selalu memandang rendah lawan jenis, khususnya pasangan berzinanya
8) Zina membunuh rasa malu
9) Sering berlaku tidak sopan
10) Terkuburnya sifat-sifat mulia dari dirinya
11) Meningkatnya rasa egois atau keakuannya
12) Merusak kekhusyuan dalam beribadah
13) Punahnya ketauladanan pada dirinya
14) Melatih dirinya dengan cara – cara hidup seperti binatang, yang tidak mengenal norma-norma susila dan menghormati nilai – nilai kemanusiaan
15) Menjadikan wajah pelakunya senantiasa lusuh, muram dan gelap.
16) Terbiasa dengan hidup yang kotor dan menjijikan, karenanya berusaha menutupinya dengan penampilannya yang berlebihan
17) Sifat liar di hati penzina, sehingga pandangan matanya liar dan tidak terkawal.
18) Pezina senantiasa berfikir untuk gonta-ganti pasangan, selingkuh dan tidak setia
19) Pandai berkata lembut, bersahaja dan pandai merayu, walau sebenarnya iaadalah orang yang kasar dan tidak manusiawi
20) Tertutupnya hati dan mata bathin sehingga sukar menerima nasihat dan kebenaran
21) Mudah sekali berbuat curang, ingkar, berbohong, melanggar hukum dan membuka lebar - lebar pintu kemunafikan
22) Membawa hartanya kepada harta yang tidak barokah
23) Menjadikan pelakunya selalu dalam kemiskinan atau setidaknya merasa demikian sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diterimanya.
24) Malas bersedekah dan menjadi kikir
25) Selalu merasakan berbeda dan tidak puas atas apa yang didapatnya dengan apa keinginnanya
26) Menghilangkan kehormatan pelakunya dan jatuh martabatnya baik di hadapan Allah maupun sesama manusia.
27) Pezina laki-laki berarti telah menodai kesucian dan kehormatan wanita.
28) Jika wanita yang berzina hamil maka masalah-masalah besarpun akan datang menghampirinya dan melahirkan generasi yang tidak jelas nasabnya
29) Aib pelaku zina akan lebih lama membekas dan mendalam karena walaupun akhirnya pelaku zina itu bertaubat dan membersihkan diri dia akan tetap masih merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang yang tidak pernah melakukannya.
30) Zina merusak masa depannya karena meninggalkan aib yang berkepanjangan
31) Di mata masyarakat mereka tidak memiliki status sosial yang jelas dengan derajat yang sangat rendah dan dipandang dengan pandangan yang menjijikan serta penuh kebencian
32) Zina mengeluarkan bau busuk melalui mulut atau badannya. Hanya orang-orang yang memiliki ‘qalbun salim’ (hati yang bersih) yang dapat mengetahuinya
33) Perzinaan menyeret kepada terputusnya hubungan silaturrahim
34) Perzinaan dapat berakibat tergelincirnya pezina menjadi durhaka kepada orang tua, serta menyia-nyiakan keluarga dan keturunannya
35) Mendorong dirinya untuk melakukan pekerjaan/mata pencahariannya yang haram, berbuat zalim bahkan bisa membawa kepada pertumpahan darah serta dosa-dosa besar yang lain.
36) Zina biasanya berkait dengan dosa dan maksiat lainnya yang dilakukan pezina, baik sebelum ataupun sesudahnya seperti khamar, madat, judi atau narkoba
37) Pezina senantiasa merasa tidak pernah ada puasnya, sehingga mencari cara-cara lain, baik dengan obat-obatan ataupun dengan cara-cara seks yang menyimpang
38) Pezina biasanya memiliki penyakit menular yang berbahaya seperti HIV Aids, Raja Singa, siphilis, dan gonorhea atau kencing bernanah, gatal-gatal yang berkepanjangan
39) Kehilangan begitu banyak rasa nikmatnya beribadah dan lezatnya iman
40) Pezina menuju jalan su’ul khotimah, dengan akhiran hidup yang seburuk – buruknya. (bukan khusnul khotimah)_Naudzubillahi min dzalik
40 Akibat buruk dan bahaya Zina terhadap lingkungan:
1) Menjamurnya tempat-tempat hiburan dan fasilitas untuk berzina seperti pada Hotel, Karaoke, Panti Pijat, Salon Plus-plus, Spa, warung remang-remang dan lokalisasi Pelacuran lainnya
2) Hadirnya secara terang-terangan para pekerja seks, germo dan muncikari, yang terus menyemarakan dan mempromosikan ketangguhan dunia prostitusi
3) Eksploitasi seksual hampir disemua sektor
4) Banyaknya orang yang berlomba-lomba pada pornografi dan porno aksi yang dikemasnya dalam seni
5) Banyaknya wanita yang obral aurat, karena sudah tidak lagi memiliki harga diri
6) Bermunculannya berbagai model publikasi dan promosi serta usaha-usaha berbau pornografi dan porno aksi mulai dari iklan dikoran, televisi, telephone hingga lewat internet yang dapat merusak generasi muda
7) Orang tua yang menjual anak gadisnya
8) Ada komunitas eksklusif yang saling tukar menukar istrinya
9) Bermunculan agama dan kepercayaan baru, untuk melegitimasi perzinaan
10) Dekadensi moral bangsa, dengan banyaknya remaja yang sudah tidak perawan lagi
11) Pelecehan seksual terjadi dibanyak tempat, mulai dari jalanan, kendaraan umum hingga kekantor-kantor dan tempat perbelanjaan
12) Menjalarnya penyakit tha'un dan wabah berbagai penyakit yang belum pernah dialami sebelumya seperti halnya penyakit HIV Aids yang dimulai penularannya lewat anak, istri, keluarga kemudian masyarakat secara keseluruhan
13) Meningkatnya kasus bunuh diri akibat tidak sanggup menerima perselingkuhan
14) Suami bunuh istri atau istri bakar suami, atau membunuh pasangan gelapnya karena api cemburu yang tidak mendapat kepastian hukum
15) Maraknya pembuatan dan peredaran Film – film Porno
16) Aborsi ilegal
17) Perbuatan zina merupakan kejahatan moral terhadap anak. Antara lain lahirnya anak tanpa ayah dengan penderitaannya yang berkepanjangan
18) Bayi hasil hubungan gelap yang dibuang, bahkan dibunuh oleh orang tuanya
19) Lahirnya anak-anak yang cacat fisik maupun cacat mental dari rahim ibu yang kotor
20) Anak-anak jalanan yang tanpa orang tua
21) Brutalnya anak-anak korban kehancuran rumah tangga
22) Tingginya penjualan rokok, miras hingga narkoba yang menjadi teman dan pelarian dari dampak maraknya perzinaan
23) Penipuan-penipuan yang menjerat kaum wanita oleh para pengusaha yang berdalih pengerah tenaga kerja
24) Meningkatnya tindak kriminalitas khususnya tindak pidana perkosaan
25) Meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga
26) Meningkatnya kejahatan penculikan anak
27) Meningkatnya kejahatan penjualan orang ( trafficking )
28) Mendatangkan rasa tidak aman bagi kaum wanita dan rasa khawatir para orang tua dan suami
29) Zina dapat menyemai permusuhan dan menyalakan api dendam antara keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengannya.
30) Pezina bagaikan virus sosial yang cepat menjangkiti orang-orang terdekat seperti kawan - kawannya, atasannya dan komunitasnya
31) Perzinaan sangat mempengaruhi jiwa kaum keluarga pezina, di mana mereka akan merasa jatuh martabatnya di mata masyarakat, sehingga menyebabkan mereka merasa rendah diri di hadapan orang lain.
32) Bermunculan macam-macam fitnah dan teror susila, yang membuat orang menjadi takut untuk menikah dan lebih memilih berzina
33) Bermunculan juga pernikahan dibawah tangan atau nikah siri, yang hanya untuk justifikasi perzinahan yang terselubung
34) Pemimpin – pemimpin atau pejabat negara yang gemar berzina, maka ia akan semakin korup dan zalim sehingga membuat bawahannya atau rakyatnya semakin menderita
35) Hukum dikebiri, dibuat menjadi tidak berdaya untuk menjerat pezina. Maka banyaklah penegak hukum dan ahli-ahli hukum yang sengaja dijerumuskan kedalam lumpur perzinaan oleh para pezina
36) Oleh orang-orang kafir, perzinaan dianggap sebagai senjata penuh kenikmatan yang paling mengasyikan dan menguntungkan serta ampuh untuk merusak dan menghancurkan akidah umat Islam
37) Para pezina biasanya kompak dan bersatu dengan berbagai siasat halusnya untuk terus menurus memerangi dan berupaya keras memadamkan semua penerang hati dan menghinakan tempat-tempat suci serta memfitnah orang-orang beriman
38) Perzinaan mampu menghipnotis dan mempengaruhi orang – orang yang lemah imannya, sehingga setiap orang akan merasa kasihan dan iba kepada para pezina yang akan dihukum. Apalagi bila perzinaan itu dikemas dengan indahnya tali cinta dan kasih sayang.
39) Perzinaan menjadikan sebab kehancurannya suatu masyarakat yakni mereka semua akan dimusnahkan oleh Allah akibat dosa zina yang tersebar dan yang dilakukan secara terang-terangan.
40) Salah satu sunnatullah (hukum alam) yang diberlakukan pada makhluk-Nya, yaitu ketika zina semarak di mana-mana, Allah akan murka dan kemurkaannya sangat keras, maka pasti kemurkaan itu akan berdampak pada bumi ini dalam bentuk azab dan musibah yang diturunkan.

32 Dosa Suami terhadap Istri

KELUARGA diibaratkan seperti batu bata pertama dalam sebuah bangunan masyarakat. Apabila keluarga baik, maka masyarakat pun akan ikut menjadi baik dan sebaliknya jika keluarga rusak, maka masyarakat akan menjadi rusak pula.
Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian kepada urusan keluarga dengan perhatian yang sangat besar, sebagaimana Islam juga mengatur hal-hal yang dapat menjamin keselamatan dan kebahagiaan keluarga tersebut.
Sangat fundamental dalam keluarga adalah perlakuan seorang suami terhadap istrinya. Bisa jadi juga berbuah dosa. Coba cek poin-poin di bawah ini.
1. Lalai Berbakti kepada orang tua setelah menikah
2. Kurang serius dalam mengharmonisasikan antara istri dan orang tua
3. Ragu dan buruk sangka kepada istri
4. Kurang memiliki sikap cemburu terhadap istri
5. Meremehkan kedudukan istri
6. Melepaskan kendali kepemimpinan dan menyerahkannya kepada istri
7. Memakan Harta istri secara batil
8. Kurang semangat dalam mengajari istri ajaran-ajaran agamanya
9. Bersikap pelit terhadap istri
10. Datang secara tiba-tiba setelah lama pergi
11. Banyak mencela dan mengkritik istri
12. Kurang berterima kasih dan memotivasi istri
13. Banyak bersengketa dengan istri
14. Lama memutus hubungan dan meninggalkan istri tanpa sebab yang jelas
15. Sering berada di luar rumah dan jarang bercengkrama dengan keluarga
16. Interaksi yang buruk dengan istri
17. Tidak menganggap penting berdandan untuk istri
18. Kurang perhatian terhadap doa yang dituntun ketika menggauli istri
19. Kurang memperhatikan Etika, Hikmah dan Hukum hubungan badan
20. Menyebarkan rahasia ranjang
21. Tidak mengetahui kondisi biologis perempuan
22. Menggauli istri ketika haid
23. Menggauli istri pada duburnya
24. Memukul istri tanpa alasan
25, Kesalahan tujuan poligami
26. Tidak bersikap Adil antara beberapa istri
27. Terburu-buru dalam urusan Talak
28. Tidak mau mentalak, padahal sudah tdk mungkin ada perbaikan dan kecocokan
29. Mencela istri setelah berpisah dengannya
30. Menelantarkan anak-anak setelah mentalak istri
31. Kurang setia terhadap istri
32. Kurang puas dan selalu melirik perempuan lain. [rki]

ISTERI GARANG APA NAK BUAT

“Suami garang, itu biasa didengar tetapi kalau isteri yang garang, bagaimana cara menghadapinya?” tanya Dj Nadia Hamid.

Dalam slot KAMAR, Nasional FM itu, saya mencadangkan supaya suami-suami yang terpaksa berdepan dengan keadaan begini lebihkan diam ataupun tersenyum sahaja. Diam dan senyum ini boleh mematahkan apa-apa pun hujah. Isteri yang garang memang mahu suaranya didengar, maka dengarlah dan senyumlah kepada mana-mana perkataannya yang tidak masuk akal itu. Ia akan memberi tujahan kepada mindanya untuk berfikir.

“Setiap kali isteri bising ambillah pewangi dan wangikan diri, hiru bau wangi itu dalam-dalam. Isteri tentu geram, katakanlah bau wangi boleh menurunkan emosi manusia kepada arus bertenang iaitu alpha. Isteri akan berasa malu sendiri andainya dia masih bising-bising,” ujar saya.

Seterusnya, saya mencadangkan supaya dalam seminggu mintalah setengah jam untuk anda bercakap pula. Gunakah masa yang diberi itu untuk bercerita hal-hal yang tiada kaitan dengan apa yang dibisingkan oleh isteri selama ini. Ceritalah perihal pejabat, perihal kereta, kisah kawan-kawan malah pancing-pancing dengan rancangan percutian. Ia memberi gambaran bahawa apa yang dia bisingkan dan garangkan selama ini tidak mengubah perhatian dan kasih sayang anda kepadanya.

Rancangan selama setengah jam terbitan Naziyah Haskam itu rancak dengan soalan-soalan panas daripada Dj sendiri, lantas saya menyenaraikan kuasa suami sebagai ketua rumahtangga, iaitu;
  1. Nasihat. Adalah menjadi kewajipan suami untuk mendidik isterinya kepada akhlak yang lebih baik. Nasihat perlu disampaikan sama ada isterinya itu suka mendengar mahupun tidak. Maka itulah, kadang-kadang slot yang diminta boleh juga digunakan untuk memberi nasihat.
  2. Tunjukkan emosi. Kadang-kadang suami boleh mempamerkan mimik-mimik tertentu apabila mendengar leteran isterinya yang seperti tiada kesudahan, misalnya merenung biji mata isteri dengan biji mata yang lebih besar dan berdengus sedikit.
  3. Marah dengan lembut. Andainya keadaan masih tidak berubah, anda bolehlah tunjukkan kemarahan tetapi dengan nada suara yang lembut, bukan sebagaimana dia marahkan anda dengan suara yang tinggi bagaikan orang hilang akal itu.
  4. Tinggikan suara. Sesekali anda boleh meninggikan suara mengatasi suaranya pula. Namun, lakukan begini pada suasana yang sesuai, bukan di tengah malam yang hening di mana suara anda dengan mudah boleh didengar oleh jiran-jiran.
  5. Tidak bercakap. Anda boleh juga mendiamkan diri hingga beberapa hari, langsung tidak mahu bercakap dengannya. Biarlah dia memekak dan memekik anda seolah-olah tidak mendengar apa-apa. Singa pun akan penat mengaum kalau tiada sesiapa yang takut.
  6. Asingkan tempat tidur. Seorang isteri akan berasa seperti tidak berguna apabila anda tidak kisah untuk tidur bersama-samanya lagi. Moga-moga langkah psikologi ini memberi kesedaran serta mendidik hatinya supaya belajar-belajar menghormati suami. 
  7. Memukul dengan kasih sayang. Adalah hak suami untuk mendidik isterinya dengan pelbagai kaedah malah hingga memukul, namun lakukan ini setelah kesemua langkah di atas dilakukan namun langsung tidak memberi kesan. Memukul itu pula mestilah di tempat yang sesuai, bukan muka, tapi mungkin lengan ataupun punggung, dengan penuh kasih sayang bertujuan mengajar bukan mencederakan.
  8. Berikan syarat. Kaedah psikologi roti dan rotan boleh digunakan pada langkah ini iaitu, katakan, “Kalaulah awak berubah abang akan belikan kereta baru,” atau tiba-tiba sahaja memberi hadiah rantai emas dan katakan, “Awak dah tak segarang dulu, pasal tu abang hadiahkan rantai emas ini.”
  9. Talak. Apabila anda hendak memberikan talak, ketahuilah ia adalah pendidikan terakhir yang harus diambil. Moga-moga dengan talak satu itu isteri akan muhasabah diri dan menjadi isteri yang lebih anggun andainya rujuk kembali nanti.
Sebenarnya, isteri tidak perlu pun menjadi garang sebab kegarangan boleh menyebabkan proses penuaan berlaku dengan lebih cepat terhadap dirinya. Ia juga boleh menyebabkan penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan. Ramai wanita hilang keanggunan oleh sifat-sifat negatif yang mereka kekalkan. Oleh itu, bukankah baik menjadi riang berbanding garang?

Berdoalah, Pasti Terkabul

1. Allah mewajibkan kita banyak-banyak berdoa kepada-Nya, dan menjanjikan serta menjamin untuk mengabulkan doa para pendoa. Dan tentu saja kita wajib meyakini dan mengimani janji serta jaminan itu sebagai sebuah kepastian, karena itu janji dan jaminan dari Allah Yang Maha Menepati janji.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka sesungguhkan Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186).

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan (doa) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-Mukmin/Ghaafir: 60).

“Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau sebuah keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (QS. Ali-Imraan: 38).
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (Memperkenankan) doa” (QS. Ibrahim: 39).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:َ “مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ” (رواه الترمذي).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang tidak memohon (berdoa) kepada Allahmaka Allah justru akan murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi).
2. Doa adalah ibadah yang wajib kita tunaikan. Tapi ia sekaligus juga merupakan kebutuhan asasi kita. Disatu sisi karena ia sebagai bukti pengakuan akan kekurangan, kelemahan dan keterbatasan diri kita sebagai hamba yang fakir dan selalu butuh kepada Dzat Yang Maha Kaya, Allah Ta’ala (sehingga hanya orang sombong saja yang tidak mau meminta, memohon dan berdoa).
Dan disisi lain doa juga sebagai salah satu solusi jitu, jalan keluar terbaik dan sarana perlepasan termanjur dari berbagai himpitan kebutuhan, persoalan dan problematika hidup. Karena berdoa juga berarti mengadu dan curhat. Maka jika seseorang acapkali merasa ringan bebannya dan menjadi plong hanya karena menemukan orang yang bersedia mendengarkan keluhan, pengaduan dan curhat-nya, maka bagi kita orang beriman, tentulah hanya Allah Tempat mengeluh, mengadu dan curhat terbaik.
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ { وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ } قَالَ: “الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ” وَقَرَأ:َ { وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} إِلَى قَوْلِهِ { دَاخِرِينَ } (رواه الترمذي وأبو داود وابن ماجة وأحمد، وقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).
Dari Nu’man bin Basyir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang firman Allah: “Dan Tuhan-mu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan (doa) bagimu.” [QS Ghafir: 60], Beliau bersabda: “Doa adalah ibadah”, beliau lalu membaca: “WA QAALA RABBUKUM UD’UUNII ASTAJIB LAKUM” (Dan Tuhan-mu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Akuu kabulkan (doa) bagimu) sampai akhir ayat: “DAAKHIRIIN.(dalam kedaan hina dina)” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Abu Isa [At-Tirmidzi] berkata: Hadits ini hasan shahih).

“Hai manusia, kamulah yang fakir (selalu butuh) kepada Allah, sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak butuk apapun dan kepada siapapun) lagi Maha Terpuji” (QS. Faathir: 15).
”Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kalianlah orang-orang yang fakir (selalu butuh kepada-Nya). Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini” (QS. Muhammad: 38).

”Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 86).
3. Namun wajib dipahami bahwa, janji dan jaminan pengabulan doa itu berlaku, ketika doa dipanjatkan secara benar dengan sesuai syarat-syaratnya. Maka ketika sebuah doa benar-benar tertolak dan benar-benar tidak terkabul, maka pasti penyebabnya adalah karena adanya syarat yang tidak terpenuhi, atau adanya faktor yang menghalangi.
Dan diantara syarat-syarat dan faktor-faktor terkabulnya doa adalah:
1-Ikhlas
2-Sungguh-sungguh
3-Yakin dikabulkan
4-Husnudz-dzan kepada Allah
5-Sabar tidak terburu-buru alias tidak cepat mutung
6-Tawakkal menyerahkan penuh kepada Allah tentang bentuk dan waktu pengkabulan doanya
7-Serta tidak mendikte Allah harus mengabulkan doa persis sesuai keinginan sang pendoa (karena Allah-lah Yang Maha Tahu tentang yang paling maslahat bagi kita, sedang kita tidak tahu!)
8-Menyertai doa dengan usaha riil secara optimal dan maksimal sebagai bukti kesungguhan doanya, dan lain-lain.
Sedangkan faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, antara lain:
1-Kebalikan semua syarat diatas
2-Berdoa dengan doa maksiat
3-Berdoa dengan doa pemutus tali silaturrahim
4-Mengonsumsi yang haram
5-Berbuat syirik
6-Meninggalkan kewajiban amar bil-ma’ruf dan nahi ‘anil-munkar, dan lain-lain.

”Katakanlah: “Tuhanku menyuruh berlaku adil”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu[533] di setiap shalat dan beribadahlah (berdoalah) kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan, demikian pulalah kamu akan kembali (kepadaNya)” (QS. Al-A’raaf: 29).

”Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al-Anbiyaa’: 90).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ”. (رواه الترمذي).
Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. At-Tirmidzi).
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْقُلُوبُ أَوْعِيَةٌ وَبَعْضُهَا أَوْعَى مِنْ بَعْضٍ فَإِذَا سَأَلْتُمْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَيُّهَا النَّاسُ فَاسْأَلُوهُ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ لِعَبْدٍ دَعَاهُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ” (رواه أحمد).
Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Hati adalah ibarat bejana, dan sebagiannya lebih banyak menampung daripada sebagian yang lain. Wahai manusia, jika kalian memohon kepada Allah ‘azza wajalla, maka mohonlah kepada-Nya dengan keyakinan bahwa permohonan itu bakal dikabulkan. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengabulkan do’a seorang hamba yang memanjatkannya dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً” (متفق عليه).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat/menyebut-Ku. Jika ia mengingat/menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingat/menyebutnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat/menyebut-Ku dalam suatu perkumpulan, maka Aku mengingat/menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka (perkumpulan malaikat). Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (HR. Muttafaq ‘alaih).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي” (متفق عليه).
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “(Do’a) salah seorang diantara kalian pasti akan dikabulkan selagi ia tidak terburu-buru, dengan mengatakan; ‘Aku telah berdoa, namun tidak kunjung dikabulkan.’ (HR.Muttafaq ‘alaih).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ” قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ: “يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ” (رواه مسلم).
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Doa seorang hamba senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi tidak kunjung dikabulkan juga’. Setelah itu, iapun merasa putus asa (mutung) dan tidak mau berdoa lagi.’ (HR. Muslim).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:َ “أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ” (رواه مسلم).
Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah Kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari sumber yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah mungkin akan dikabulkan doa orang seperti itu?.” (HR. Muslim).
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ” (رواه الترمذي وابن ماجة وأحمد، وقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ).
Dari Hudzaifah bin Al Yaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak, niscaya Allah akan mengirimkan siksa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Abu Isa (At-Tirmidzi) berkata: Hadits ini hasan).
4. Yang sangat penting dipahami adalah bahwa, terdapat 1001 macam, bentuk dan cara pengabulan doa! Sementara kebanyakan orang hanya memahami satu saja bentuk dan cara pengabulan doa. Yakni bahwa doa seseorang dikabulkan persis sesuai permintaan, tepat diwaktu (timing) dan tempat yang “didiktekan” dalam doanya! Sehingga ketika doanya tidak terkabul persis seperti itu, biasanya ia langsung menganggap dan mengklaim serta bersuudzan bahwa, doanya tidak didengar oleh Allah dan tidak dikabulkan. Padahal sebenarnya dikabulkan, hanya saja ia tidak memahami, tidak mengetahui dan tidak menyadarinya! Karena dikabulkan dengan cara lain, yang menurut Allah Yang Maha Mengetahui, cara lain itu lebih maslahat baginya!
Jadi ketika doa serasa tidak terkabul, ada dua kemungkinannya: Pertama, memang benar-benar tidak dikabulkan yang berarti tertolak, dan jelas karena ada syarat yang tidak terpenuhi atau ada faktor yang menghalangi, seperti telah disebutkan dimuka. Kedua, sebenarnya dikabulkan, namun dalam bentuk atau dengan cara lain, yang tidak dipahami atau tidak disadari oleh yang bersangkutan.
Dan secara garis besar, ada tiga bentuk pengkabulan dan penerimaan doa seorang pendoa: Pertama, dikabulkan secara umum sesuai dengan permintaan, meski waktu, tempat dan detail-detail lainnya bisa saja berbeda-beda. Kedua, dikabulkan tapi tidak sesuai dengan permohonan, melainkan diganti dengan yang lebih baik, yakni berupa dihindarkan dari keburukan atau marabahaya yang nilainya setara dengan yang diminta. Ketiga, diterima tapi tidak diberikan di dunia, melainkan disimpan dan dicatat berupa pahala yang setara dengan nilai doa dan permohonan.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Tapi boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Karena Allah Yang Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216).
أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ” فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ إِذًا نُكْثِرُ قَالَ: “اللَّهُ أَكْثَرُ” (رواه الترمذي، وقَالَ: وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).
Bahwa ‘Ubadah bin Ash Shamit telah menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun di muka bumi yang berdoa kepada Allah dengan sebuah doa, melainkan Allah akan memberikan kepadanya (sesuai doanya), atau memalingkan darinya keburukan yang setara dengan nilai doanya, selama ia tidak berdoa dengan doa dosa atau pemutusan tali silaturrahim” Kemudian ada seorang laki-laki dari orang-orang yang ada (di tempat) berkata: jika demikian kita perbanyak (berdoa yang banyak) saja. Beliaupun bersabda: “Allah lebih banyak pemberiannya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata; Ini adalah hadits hasan shahih).
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا”، قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ قَالَ: “اللَّهُ أَكْثَرُ” (رواه أحمد والحاكم).
Dari Abu Sa’id berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan tali silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan; disegerakan pengabulan doanya (di dunia ini), atau disimpan pahalanya untuknya untuk (diberikan) di akhirat, atau ia dijauhkan dari keburukan yang setara nilainya”. Para sahabat berkata: “Jika demikian kita perbanyak (berdoa yang banyak) saja”, beliau bersabda: “Allah memiliki yang lebih banyak (sebagai balasan dan pengkabulan” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
5. Karena ketidaktahuan itu, sering sekali kita meminta apa-apa yang kita sangka baik atau lebih baik, maslahat atau lebih maslahat, baik dalam hal jenis dan macamnya, atau caranya, atau timing-nya, atau tempatnya, dan lain-lain. Padahal sebenarnya, dalam ilmu Allah Yang Maha Tahu tidaklah demikian. Maka Allah-pun, saat berkehendak mengabulkan doa kita, mengabulkannya sambil atau setelah “meralat” doa kita menjadi yang benar-benar lebih baik dan lebih maslahat bagi kita. Misalnya seseorang berdoa minta jodoh A, tapi “diralat” dengan diberi jodoh B atau C yang hakekatnya dalam ilmu Allah lebih baik dan lebih maslahat baginya. Atau suami-istri berdoa minta anak perempuan, tapi “diralat” dengan diberi anak laki-laki, karena Allah Maha Tahu, mereka lebih mampu mendidik anak laki-laki, atau sebaliknya. Atau seorang pedagang berdoa meminta untung sekian hari ini, tapi “diralat” dengan diberi kurang dari permintaannya itu, karena jika diberi persis sesuai permintaannya justru lebih madharat baginya. Dan begitu seterusnya.
Lalu yang juga paling sering terjadi, “ralat” itu tertuju pada waktu dan “timing” pengkabulan doa. Dimana seseorang berdoa meminta sesuatu hari ini misalnya, tapi “diralat” dan diberi besok, atau minta pekan ini, tapi “diralat” dan dikabulkan pekan depan atau pekan depannya lagi, atau meminta pada bulan atau tahun ini, namun “diralat” dan baru dikabulkan pada beberapa bulan atau beberapa tahun berikutnya. Dan bahkan ada yang doanya “diralat” “begitu ekstrem” sehingga baru dikabulkan justru setelah yang bersangkutan tiada, sehingga yang menerima dan merasakan pengkabulan doa tersebut adalah anak cucu yang bersangkutan. Mungkin disini penting kita mengambil ibrah dari pengkabulan doa Nabi Ibrahim ‘alahissalam yang baru terjadi setelah berabad-abad berlalu dari saat doa dipanjatkan. Yakni doa beliau seperti dalam QS. Al-Baqarah: 129, yang baru dikabulkan oleh Allah dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul terakhir, seperti disebutkan para ulama tafsir.
Nah adanya “ralat-ralat” inilah yang biasanya menjadi salah satu faktor penyebab ketidaksabaran, suudzan dan sikap mutung (ngambek) dari banyak pendoa, serta sekaligus menjadi salah satu penghalang utama terkabulnya doa-doa berikutnya!
6. Karena kondisi dan situasi saat ini, sangat boleh jadi kebanyakan doa kita justru “diralat” dan “dialihkan” ke bentuk dan jenis kedua dari pengkabulan doa yang disebutkan dalam hadits ‘Ubadah bin Ash-Shamit dan Abu Sa’id Al-Khudri diatas. Yakni banyak dan beragamnya potensi keburukan dan marabahaya yang mengancam setiap kita setiap saat di zaman sekarang, sangat boleh jadi telah menjadi faktor penyebab utama “peralatan” dan “pengalihan” itu. Dimana doa-doa kita dengan beragam tujuan dan kepentingan, meskipun memenuhi syarat, “terpaksa” tidak dikabulkan sesuai tujuan dan kepentingannya, melainkan “dipakai” untuk menghindarkan dan menyelamatkan kita dari berbagai potensi keburukan dan marabahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu setiap detik! Khususnya bagi kita yang jarang berdoa dengan doa-doa perlindungan diri. Namun kebanyakan kita tidak memahami dan tidak menyadari hal itu.
7. Dan tentu saja ujian penerimaan dan pengkabulan doa terberat adalah bentuk ketiga seperti dalam hadits diatas. Yakni, karena hikmah dan ke-Maha Tahu-an Allah, doa-doa kita tidak dikabulkan dengan bentuk pengkabulan apapun di dunia, melainkan disimpan dan dicatat sebagai pahala amal yang setara dengan nilai doa-doa itu, yang baru akan diberikan di akhirat, untuk memperberat timbangan amal kita nanti. Memang ini berat sekali di dunia, tapi nanti mungkin setiap kita membayangkan dan menginginkan andai seluruh doa yang dipanjatkannya di dunia tidak ada yang dikabulkan di dunia, melainkan ditambahkan sebagai pemberat timbangan amal shalih yang paling ia butuhkan saat itu!
Di tulis oleh Ahmad Mudzoffar Jufri, MA

Berhati-Hatilah Dengan Angan-Angan Anda !

Segala puji bagi Allah ta’ala, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- beserta para sahabat, keluarga, dan pengikut setianya hingga akhir zaman, amma ba’du:
Angan-angan adalah proses berfikir yang dipengaruhi oleh harapan-harapan terhadap kenyataan yang logis1, berangkat dari rasa ketidakpuasan dengan kondisi diri saat ini disertai keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih. Bagi sebagian orang, berangan-angan bisa menjadi salah satu cara seseorang menghibur diri tatkala menyaksikan jauhnya asa untuk meraih apa yang dia cita-citakan, atau harapan yang sulit untuk diwujudkan namun tidak mustahil suatu saat nanti akan diraih. Selain itu, angan-angan juga bisa menjadi sarana pengobar semangat untuk terus beramal dan mengejar mimpi. Bagi seorang muslim, berangan-angan bisa menjadi salah satu sarana ibadah, karena dengan berangan-angan berarti dia menanamkan niat mulia dalam hatinya. Dan bahkan bisa jadi pahala yang ia peroleh dari niatnya ini lebih besar dari pada pahala yang dia peroleh apabila dia mewujudkan niatnya itu, karena bisa jadi di tengah pelaksanaan timbul rasa riya yang berdampak pada ditolaknya amal perbuatan tersebut tanpa ada pahala sedikitpun, atau setelah pelaksanaan timbul rasa angkuh dan memandang remeh orang lain yang tidak beramal seperti amalnya.
Beribadah melalui angan-angan juga dilakukan oleh para sahabat Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-. Suatu hari Amirul Mukminin Umar bin Khoththob pernah berkumpul bersama para sahabatnya dalam sebuah ruangan seraya berkata: “berangan-anganlah kalian!”, maka salah seorang berujar: “aku berangan-angan seandainya aku memiliki emas sepenuh ruangan ini untuk aku infakkan di jalan Allah dan aku sedekahkan”. Salah seorang lainnya berujar: “kalau aku berangan-angan seandainya aku punya intan dan permata sepenuh ruangan ini untuk aku infakkan di jalan Allah dan aku sedekahkan”. Umar kemudian berujar: “Berangan-anganlah kalian!”. Mereka menjawab: “Kami tidak tahu lagi harus berangan-angan apalagi, wahai amirul mu’minin”. Umar berkata: “aku berangan-angan seandainya ruangan ini penuh dengan orang-orang seperti Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim Maula Abi Hudzaifah, dan Hudzaifah ibnul Yaman”. (HR. Al-Hakim: 5005, sesuai dengan syarat bukhori dan muslim)

Mengapa Umar – rodhiallau ‘anhu – lebih suka ruangan itu penuh dengan pemuda sekelas Abu Ubaidah dari pada penuh dengan emas permata? Karena infak emas permata semata tidak bisa mengantar umat islam menuju kemuliaan, tidak bisa membebaskan Baitul Maqdis dari tangan najis Raja Romawi Heraklius saat itu, tidak mampu mengibarkan panji islam sampai ujung timur Kekaisaran Persia. Sumber daya alam semata bukanlah solusi, butuh sumber daya manusia-manusia pilihan seperti mereka untuk mengawal umat islam menuju kejayaan.

Selain Umar bin Khoththob, sahabat lain yang pernah berangan-angan adalah anaknya sendiri Abdullah bin Umar bin Khothtob. Pada suatu hari di kota Mekkah tengah berkumpul empat orang di Hijr Ismail (samping Ka’bah), mereka adalah Mus’ab bin Az-Zubair, ‘Urwah bin Az-Zubair, Abdullah bin Az-Zubair, dan Abdullah bin ‘Umar. Mereka berkata: “mari kita berangan-angan!”, kemudian Abdullah bin Az-Zubair berkata: “kalau aku berangan-angan menjadi khalifah”, kemudian ‘Urwah berkata: “kalau aku berangan-angan menjadi seorang ‘Alim”, adapun Mus’ab berkata: “kalau aku berangan-angan menjadi gubernur ‘Iraq dan menikahi ‘Aisyah binti Tholhah dan Sakinah binti Al-Hasan”, adapun ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: “kalau aku berangan-angan sekiranya Allah ta’ala mengampuniku”. Periwayat kisah ini berkata: “akhirnya masing-masing mereka bertiga memperoleh apa yang mereka angan-angankan, dan semoga saja Abdullah bin ‘Umar juga telah memperoleh apa yang dia angan-angankan” (Hilyatul ‘Auliya)

Dalam sebuah hadis sohih Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- pernah menyinggung tentang angan-angan. Beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- bersabda:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ حَقَّهُ قَالَ: فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ.

قَالَ: وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا قَالَ: فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مَالٌ عَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ قَالَ: فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ. قَالَ: وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا

وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقَّهُ فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ. قَالَ: وَعَبْدٌ لَمْ

يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مَالٌ لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ قَالَ: هِيَ نِيَّتُهُ فَوِزْرُهُمَا فِيهِ سَوَاءٌ. (أخرجه أحمد والترمدي، وصححه الألباني

في الجامع الصغير)

Artinya: “Dunia ini di huni oleh empat jenis hamba:
(pertama), hamba yang Allah ta’ala anugerahi harta dan ilmu sehingga keduanya menjadi perantara dia untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, menyambung tali silaturahmi, dan dia mengetahui hak-hak Allah ta’ala. Inilah sebaik-baik golongan.
(Kedua), hamba yang Allah ta’ala anugerahi ilmu namun tidak dianugrahi harta, maka dia berangan-angan: “andaisaja aku punya harta tentu aku akan beramal seperti amalanya si fulan (yakni golongan yang pertama)”. Golongan ini pahalanya sama dengan yang pertama.
(Ketiga), hamba yang Allah ta’ala anugerahi harta namun tidak dianugerahi ilmu, maka dia belanjakan hartanya itu seenaknya tanpa ilmu, dia tidak menggunakannya untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tidak juga untuk menyambung tali silaturahmi, dan bahkan dia sama sekali tidak tahu hak-hak Allah ta’ala. Inilah seburuk-buruk golongan.
(Keempat), hamba yang tidak dianugerahi harta dan tidak pula dianugrahi ilmu, maka dia berangan-angan: “andaisaja aku punya harta tentu aku akan berfoya-foya seperti si fulan (yakni golongan yang ketiga)”. Golongan ini dosanya sama dengan yang ke tiga”.
(HR. Ahmad dan Tirmidzi, disahihkan oleh Al-Albani)
Dari hadits Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- diatas kita ketahui bahwasanya seseorang yang mengangan-angankan kebaikan dan dia berazam kuat seandainya itu terwujud dia benar-benar melaksanakannya, mendapatkan pahala sebagaimana orang yang telah melaksanakan kebaikan tersebut. Golongan kedua sampai kepada derajat golongan pertama karena mereka berangan-angan disertai azam yang kuat.
Jadi, jangan heran kalau pada hari kiamat nanti kita akan menyaksikan ada orang yang sama sekali belum pernah berjihad tiba-tiba memperoleh derajat para mujahid, atau orang-orang yang bukan termasuk alim namun dia bersama dengan para ulama, atau orang yang di dunia ini termasuk yang paling miskin diantara orang-orang miskin namun memperoleh pahala orang yang bersedekah emas permata.
Memang, ketika di dunia dia tidak pernah menapakkan kaki sejengkal pun di medan jihad, namun hatinya senantiasa terbakar oleh kerinduan untuk mati syahid. Setiap kali berdoa dia selalu meminta agar Allah ta’ala memberinya kesempatan untuk mengangkat senjata di jalan-Nya. Setiap kali membaca ayat-ayat jihad dadanya merintih menahan rindu akan kesyahidan, bagaikan istri yang menahan kerinduan akan suaminya yang entah kapan akan datang atau mungkin tidak akan pernah datang. Baginya, sebutir peluru yang menembus batang tenggorokannya di jalan Allah lebih manis dibandingkan menikahi bidadari dunia. Baginya, bau amis lumuran darah di bajunya saat mempertahankan panji Allah lebih harum dari parfum terbaik dunia. Mimpi-mimpi dalam tidurnya dihiasi oleh desingan AK-47 dan dentuman-dentuman granat dan bazooka. Tidak ada yang menghalangi dia dari berjihad selain uzur syar’i: entah sakit, atau kodisi fisik yang tidak memungkinkan, atau karena dia memiliki kedua orang tua yang telah renta dan tidak mengizinkan dia pergi, atau karena memang tidak ada peperangan, atau yang lainnya. Sampai akhir hayat, malam harinya tidak pernah luput dari doa: “Ya Allah, Izinkanlah aku mati membela agama-Mu”

Memang, ketika di dunia dia tidak dikenal sebagai orang ‘alim, bukan lulusan pesantren bukan pula lulusan universitas terkemuka di timur tengah. Dia baru memperoleh hidayah ketika umurnya 40 tahunan, dan baru bisa membaca Alquran beberapa tahun sesudahnya. Selama ini tidak ada yang mengingatkan dia perihal ilmu-ilmu agama. Hatinya seakan tercabik-cabik setiap kali mengingat masa mudanya yang habis di arena persaingan dunia. Iri setiap kali berjumpa dengan pemuda yang sedang menuntut ilmu atau menghadiri kajian. Kalau saja pemuda itu mau menjual masa mudanya tentu dia akan membelinya dengan seluruh kekayaannya. Dalam hatinya dia berkata: “Andaikata aku mengenal hidayah ketika aku masih muda dahulu tentu akan kuhabiskan untuk menuntut ilmu seperti ulama fulan”. Namun begitu, dia pantang menyerah menuntut ilmu. Dia gunakan sisa umurnya untuk terus belajar mengenal Allah ta’ala dan syariatnya, berusaha sekuat tenaga menghafal ayat-ayat suci-Nya dan sabda-sabda rosul-Nya. Hampir tidak ada kesempatam menghadiri kajian ilmiah yang dia lewatkan. Disela-sela waktu senggangnya mencari nafkah dia mencoba menghafal satu dua ayat alquran. Dia mendidik anak-anaknya untuk mencintai ilmu dan ulama. Dan hal itu terus menerus dia lakukan sampai akhir hayatnya


Memang, ketika di dunia dia bukan raja ataupun pengusaha kaya. Hari-harinya tak luput dari suara nyaring perut menahan lapar. Mimik wajahnya seolah mangabarkan bahwa selama puluhan tahun dia membanting tulang untuk bisa melalui hari demi hari dengan sesuap nasi. Namun selama ini, hati tulusnya yang terus-menerus ia bekali dengan ilmu, iman, dan taqwa, selalu mendorongnya untuk membantu orang lain. Setiap kali melihat orang kaya membangun ma’had dia berkata dalam hati: “andai Allah ta’ala memberiku harta tentu aku akan bangun ma’had seperti si fulan, atau bahkan lebih besar dan lebih banyak dari yang dia bangun”. Setiap kali melihat saudaranya kesulitan dia berkata dalam hati: “andai aku punya harta tentu aku bantu dia”. Bila melihat anak-anak yatim bergelimang asap kendaraan di jalan-jalan dia berkata: “andai aku bisa membangun panti asuhan untuk merawat dan mendidik mereka sehingga menjadi generasi yang berguna untuk agama ini”. Begitulah keadaanya hingga akhir hayatnya.
Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- bersabda:

من سأل الشهادة بصدق بلغه الله منازل الشهداء وإن مات على فراشه (رواه مسلم)

Artinya: “barangsiapa yang berdoa memohon kepada Allah ta’ala dengan tulus untuk mematikan dia dalam keadaan syahid maka Allah ta’ala akan menyampaikan dia ke derajat orang-orang yang mati syahid sekalipun dia mati diatas kasurnya” (HR.Muslim)

 Hadist lainnya, ketika Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- dalam perjalanan pulang usai perang Tabuk dan beliau beserta pasukan muslimin sudah mendekati kota Madinah beliau bersabda:

إن بالمدينة أقواما ما سرتم مسيرا ولا قطعتم واديا إلا كانوا معكم. قالوا: يا رسول الله وهم بالمدينة؟ قال: وهم بالمدينة حبسهم العذر. رواه

البخاري

Artinya: “sesungguhnya di kota Madinah ini terdapat orang-orang yang mana tidaklah kalian menyusuri jalan atau menyebrangi lembah kecuali mereka senantiasa bersama kalian”. Para sahabat bertanya keheranan: “wahai Rosulullah, mereka itu kan tetap berada di dalam kota Madinah?” Beliau berkata: “mereka tetap berada di dalam kota karena tertahan oleh uzur” (HR. Bukhori)
Orang-orang yang Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- singgung dalam hadis di atas adalah mereka yang sangat menginginkan pergi berperang bersama Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- hanya saja mereka tidak mampu, entah karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan, atau tidak memilki senjata dan perbekalan, atau karena Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- memerintahkan mereka untuk menetap di Madinah menjaga para wanita dan anak-anak. Maksud dari sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-: “kecuali mereka senantiasa bersama kalian” adalah mereka memeroleh pahala jihad sebagaimana yang kalian peroleh karena mereka telah berazam untuk berangkat, hanya saja mereka tertahan oleh uzur. Seandainya tidak ada uzur mereka pasti bergabung bersama pasukan muslimin. Ini menunjukan bahwa angan-angan akan sebuah kebaikan disertai azam yang kuat dapat mengantarkan seorang muslim kepada derajat orang-orang yang telah melakukan kebaikan tersebut.
Namun perlu diwaspadai pula bahwa angan-angan selain bisa mengantarkan seseorang kepada kemulian, juga bisa menjadi sarana efektif menuju kehinaan abadi dan penyesalan tiada akhir di hari kiamat kelak –na’udzubillahi min dzalik-. Golongan keempat dari empat golongan yang disebut dalam hadis diatas adalah contohnya. Dia harus menanggung dosa sebesar dosa golongan ketiga bukan karena mengerjakan apa yang dia kerjakan, melainkan hanya berangan-angan untuk bisa mengerjakan sebagaimana yang dia kerjakan. Jadi jangan heran apabila pada hari kiamat nanti kita akan menemukan ada orang yang ketika di dunia terlihat sebagai rakyat jelata yang senantiasa tertindas tiba-tiba harus menanggung dosa sebesar dosa para penguasa diktator. Atau orang yang terlihat soleh, namun pada hari kiamat dia harus menanggung dosa sebesar dosa orang yang berzina. Atau yang seumur hidup miskin tiba-tiba harus menanggung dosa sebesar dosa para koruptor. Atau orang biasa dengan wajah pas-pasan dan tidak terkenal tiba-tiba harus menanggung dosa sebesar dosa para artis dan bintang film yang selalu penebar fitnah. Adapun rakyat jelata yang tertindas tadi, dia selalu berangan-angan: “andaisaja aku menjadi penguasa diktator seperti si fulan itu, tentu hidupku akan senang. Aku bisa melampiaskan seluruh nafsuku. Aku bisa merampas kebun siapa saja tanpa takut siapapun, karena aku punya banyak prajurit. Aku juga bisa menarik pajak sesukaku tanpa peduli. Andai ku jadi raja, tinggal tunjuk sana tunjuk sini terpuaskanlah seluruh nafsuku, wah indahnya…!”
Adapun orang yang terlihat soleh tadi, dia memang tidak pernah berzina karena tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perbuatan nista nan terkutuk itu –naudzubillahi min dzalik -, namun dia selalu berangan-angan seandainya dia punya kesempatan berzina sebagaimana orang lain tentu dia akan melakukannya.
Adapun orang miskin tadi, dia memang tidak pernah korupsi karena memang tidak ada kesempatan. Apa yang mau dikorupsi? Sedangkan jabatan saja tidak ada!. Namun ketika dia mendengar berita bahwa ada koruptor ratusan milyar rupiah hanya divonis 1 tahun penjara dia seraya berkata: “wah, andaisaja aku berada diposisi dia..! enak sakali jadi koruptor seperti dia..! sudah korupsi ratusan milyar, hukumannya ringan pula Cuma 1 tahun..! berarti tahun depan begitu keluar dari penjara dia langsung kaya mendadak..!”
Adapun orang biasa tadi, dia selalu berangan-angan: “andaisaja aku punya wajah ganteng / cantik seperti artis fulan / fulanah, tentu aku bisa pamer muka kesana-kemari. Aku juga bisa menggoda setiap wanita / pria. Selain itu, aku juga bakal di kelilingi wanita-wanita cantik / lelaki-lelaki tampan”.
Orang-orang seperti mereka berempat inilah yang paling sial hidupnya. Sudah angan-angan di dunia tak sampai, sengasara pula di akhirat. Na’udzubillahi ta’ala min dzalik.
Lalu bagaimana cara kita bisa selamat dari perangkap hati ini? Bagaimana caranya agar hati ini tidak mengangan-angankan hal-hal yang tercela?
Dalam surat Al-Qhoshosh Allah ta’ala berfirman menceritakan kisah Qorun:
“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “semoga saja kita mempunyai (harta) seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar (79) Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar (80) (Al-Qoshosh: 79-80)”.
Allah ta’ala menerangkan bahwa ketika Qorun keluar dari kediamannya dengan membawa serta kekayaan dan kemegahannya untuk dipamerkan dihadapan khalayak ramai, seketika itu juga orang-orang terbagi menjadi dua golongan:
Golongan pertama adalah orang-orang tertipu dengan kemegahan Qorun sehingga berangan-angan seandainya Allah ta’ala memberikan kekayaan dan kemegahan seperti Qorun agar mereka bisa pamer dihadapan manusia sebagaimana yang dilakukan Qorun. Coba perhatikan baik-baik ayat diatas..! Allah ta’ala mensifati mereka sebagai “orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia”. Sifat inilah yang mendorong mereka untuk berangan-angan seperti yang disebutkan diatas. Mereka itu orang-orang bodoh yang hanya melihat fenomena hidup dari kulitnya saja tanpa mengetahui hakikatnya. Mereka beranggapang bahwa kasih sayang Allah ta’ala kepada hamba-Nya berbanding lurus dengan limpahan kenikmatan materi. Artinya, kalau Allah ta’ala semakin banyak melimpahkan kenikmatan materi kepada seorang hamba, itu tandanya Dia semakin sayang kepada hamba tersebut.
Adapun golongan kedua, Allah ta’ala mensifati mereka sebagai “orang-orang yang diberi ilmu”. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka sadar bahwasanya dunia ini disisi Allah ta’ala tidak lebih berharga dari bangkai tikus. Allah ta’ala memeberikan dunia kepada semua makhluk, baik yang beriman maupun yang kafir. Seandainya harga dunia ini disis-Nya menyamai harga sepotong sayap nyamuk niscaya Dia tidak akan membiarkan orang-orang kafir merasakan nikmatnya satu tegukan air, karena segala sesuatu yang berharga disisi-Nya hanya diperuntukan bagi para kekasihnya dari golongan orang-orang yang beriman dan beramal salih. Mengapa Allah ta’ala membiarkan orang-orang kafir makan, minum, dan bersenang-senang di dunia ini sebagaimana binatang makan, minum, dan bersenang-senang? Itu tidak lain karena dunia ini tidak ada harganya disisi-Nya. Orang-orang berilmu tadi memahami betul akan hal ini, sehingga mereka sama sekali tidak tergoda oleh kemegahan dan kemewahan perhiasan Qorun. Jangankan mengagumi, berangan-angan pun sama sekali tidak.
Dari firman Allah ta’ala diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa faktor pemicu seseorang untuk mengangan-angankan kenikmatan dunia sekalipun itu maksiat adalah kecintaan mereka kepada dunia itu sendiri. Dan kecintaan mereka terhadap dunia timbul karena kebodohan mereka akan hakikat kehidupan. Semakin bodoh mereka, semakin dasyat cinta mereka kepada dunia. Dan semakin dasyat cintanya kepada dunia semakin tinggi pula angan-angan keduniaannya sekalipun seumur hidup mereka miskin. Adapun faktor pencegah seseorang untuk mengangan-angankan sesuatu yang diharankan Allah ta’ala adalah ilmu mereka. Semakin berilmu seseorang, semakin kenal dia dengan Allah ta’ala, dan semakin paham akan hakikat kehidupan.
Pembaca yang beriman…
Mari kita terus menuntut ilmu sampai hembusan nafas terakhir, karena hanya dengan ilmu itulah kita akan kita dapat mencegah kecintaan terhadap dunia bersarang di dada kita, dan hanya dengan ilmulah kita semakin mengenali Allah ta’ala serta mengenali hakikat hidup ini.
Perlu diketahui, hakikat ilmu bukanlah seberapa pintar kita menganilsa masalah-masalah fikih, atau seberapa luas kita memahami seluk-beluk riwayat hadis, atau seberapa banyak hafalan Al-Qur’an kita. Tapi hakikat ilmu adalah seberapa takut kita kepada Allah ta’ala.
Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (fathir: 28)
Marilah kita koreksi kembali diri ini..! kita selidiki lagi isi hati kita masing-masing..! periksalah satu persatu apakah ada keinginan-keinginan buruk yang bersemayam dalam dada ini..? bongkarlah rahasia-rahasia hati kita sebelum datang sebuah hari dimana Allah ta’ala sendiri yang akan membongkarnya..! Allah ta’ala berfirman:
“pada hari dinampakkan segala rahasia” (Ath-Thoriq:9)
Wallahu a’lam bishowab
Semoga sholawat dan salam selalu tercurah kepada Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-, beserta para sahabat dan keluarganya.
1 KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) edisi III
- See more at: http://belajarislam.com/2011/01/berhati-hatilah-dengan-angan-angan-anda-12/#sthash.ShU5Q6ic.dpuf
















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...